Minggu, 18 November 2012

Kromatografi kertas

Kromatografi kertas merupakan salah satu metode pemisahan berdasarkan distribusi suatu senyawa pada dua fasa yaitu

fasa diam dan fasa gerak. Pemisahan sederhana suatu campuran senyawa dapat dilakukan dengan kromatografi kertas, prosesnya dikenal sebagai analisis kapiler dimana lembaran kertas berfungsi sebagai pengganti kolom.

Kromatografi kertas adalah salah satu pengembangan dari kromatografi partisi yang menggunakan kertas sebagai padatan pendukung fasa diam. Oleh karena itu disebut kromatografi kertas. Sebagai fasa diam adalah air yang teradsorpsi pada kertas dan sebagai larutan pengembang biasanya pelarut organik yang telah dijenuhkan dengan air. Dalam kromatografi kertas fasa diam didukung oleh suatu zat padat berupa bubuk selulosa. Fasa diam merupakan zat cair yaitu molekul H2O yang teradsorpsi dalam selulosa kertas.fasa gerak berupa campuran pelarut yang akan mendorong senyawa untuk bergerak disepanjang kolom kapiler. Analisis kualitatifmenggunakan kromatografi kertas dilakukan dengan cara membandingkan harga relative response factor (Rf). Nilai Rf identik dengan time retention (tR) atau volume retention (VR). Nilai Rf dapat ditentukan dengan cara: Rf = jarak yang ditempuh noda / jarak yang ditempuh pelarut Harga Rf zat baku dapat diidentifikasikan komponen campuran, karena harga besaran ini bersifat khas untuk setiap zat asal digunakan jenis pengembang yang sama. Kadang-kadang pemisahan dalam satu arah belum memberikan hasil yang memuaskan. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, dapat dipakai carakromatografi kertas dua dimensi, yang mana letak kertas diubah sehingga arah pemisahan juga berubah. Secara umum kromatografi kertas dilakukan dengan menotolkan larutan yang berisi sejumlah komponen pada jarak 0,5 sampai 1cm dari tepi kertas. Setelah penetesan larutan pada kertas, maka bagian bawah kertas dicelupkan dalam larutan pengambang(developing solution). Larutan ini umumnya terdiri atas campuran beberapa pelarut organik yang telah dijenuhkan dengan air. Sistem ini akan terserap oleh kertas dan sebagai akibat dari gaya kapiler akan merambat sepanjang kertas tersebut. Rambatan ini dapat diusahakan dalam modus naik atau menurun. Selama proses pemisahandilakukan, sistem secara keseluruhannya disimpan dalam tempat tertutup, ruang didalamnya telah jenuh dengan uap sistem pelarut ini.

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/pemurnian-material/kromatografi/

Kromatografi
Ditulis oleh Yoshito Takeuchi pada 03-01-2009

Walaupun agak tidak terlalu jelas, kontribusi kromatografi pada perkembangan kimia modern tidak dapat dipandang rendah. Tanpa teknik kromatografi, sintesis senyawa murni (atau hampir murni) akan sangat sukar , dan dalam banyak kasus, hampir tidak mungkin.

Di awal abad ke-20, kimiawan Rusia Mikhail Semënovich Tsvet (1872-1919) menyiapkan kolom yang diisi dengan serbuk kalsium karbonat, dan kedalamnya dituangkan campuran pigmen tanaman yang dilarutkan dalam eter. Secara mengejutkan, pigmen memisahkan dan membentuk lapisan berwarna di sepanjang kolom. Ia menamakan kromatografi pada teknik pemisahan baru ini (1906). Kemudian kimiawan dari Swiss Richard Martin Willstätter (1872-1942) menerapkan teknik ini untuk risetnya yakni khlorofil untuk menunjukkan manfaat teknik ini, dan sejak itu banyak perhatian diberikan pada kromatografi. Kromatografi adalah teknik untuk memisahkan campuran menjadi komponennya dengan bantuan perbedaan sifat fisik masing-masing komponen. Alat yang digunakan terdiri atas kolom yang di dalamnya diisikan fasa stasioner (padatan atau cairan). Campuran ditambahkan ke kolom dari ujung satu dan campuran akan bergerak dengan bantuan pengemban yang cocok (fasa mobil). Pemisahan dicapai oleh perbedaan laju turun masing-masing komponen dalam kolom, yang ditentukan oleh kekuatan adsorpsi atau koefisien partisi antara fasa mobil dan fasa diam (stationer). Komponen utama kromatografi adalah fasa stationer dan fasa mobil dan kromatografi dibagi menjadi beberapa jenis bergantung pada jenis fasa mobil dan mekanisme pemisahannya, seperti ditunjukkan di Tabel 12.1 Tabel 12.1 Klasifikasi kromatografi Kriteria Nama
Kromatografi cair, kromatografi gas

Fasa mobil Mekanisme

Kromatografi adsorpsi, kromatografi partisi

Kromatografi pertukaran ion kromatografi gel

Kromatografi kolom, kromatografi lapis tipis, Fasa stationer kromatografi kertas Beberapa contoh kromatografi yang sering digunakan di laboratorium diberikan di bawah ini.

a. Kromatografi partisi
Prinsip kromatografi partisi dapat dijelaskan dengan hukum partisi yang dapat diterapkan pada sistem multikomponen yang dibahas di bagian sebelumnya. Dalam kromatografi partisi, ekstraksi terjadi berulang dalam satu kali proses. Dalam percobaan, zat terlarut didistribusikan antara fasa stationer dan fasa mobil. Fasa stationer dalam banyak kasus pelarut diadsorbsi pada adsorben dan fasa mobil adalah molekul pelarut yang mengisi ruang antar partikel yang ter adsorbsi. Contoh khas kromatografi partisi adalah kromatografi kolom yang digunakan luas karena merupakan sangat efisien untuk pemisahan senyawa organik (Gambar 12.3).

Kolomnya (tabung gela) diisi dengan bahan seperti alumina, silika gel atau pati yang dicampur dengan adsorben, dan pastanya diisikan kedalam kolom. Larutan sampel kemudian diisikan kedalam kolom dari atas sehingga sammpel diasorbsi oleh adsorben. Kemudian pelarut (fasa mobil; pembawa) ditambahkan tetes demi tetes dari atas kolom. Partisi zat terlarut berlangsung di pelarut yang turun ke bawah (fasa mobil) dan pelarut yang teradsorbsi oleh adsorben (fasa stationer). Selama perjalanan turun, zat terlarut akan mengalami proses adsorpsi dan partisi berulang-ulang. Laju penurunan berbeda untuk masing-masing zat terlarut dan bergantung pada koefisien partisi masing-masing zat terlarut. Akhirnya, zat terlarut akan terpisahkan membentuk beberapa lapisan. Akhirnya, masing-masing lapisan dielusi dengan pelarut yang cocok untuk memberikan spesimen murninya. Nilai R didefinisikan untuk tiap zat etralrut dengan persamaan berikut. R = (jarak yang ditempuh zat terlarut) / (jarak yang ditempuh pelarut/fasa mobil).

Gambar 12.3 Diagram skematik kromatografi

b. Kromatografi kertas
Mekanisme pemisahan dengan kromatografi kertas prinsipnya sama dengan mekanisme pada kromatografi kolom. Adsorben dalam kromatografi kertas adalah kertas saring, yakni selulosa. Sampel yang akan dianalisis ditotolkan ke ujung kertas yang kemudian digantung dalam wadah. Kemudian dasar kertas saring dicelupkan kedalam pelarut yang mengisi dasar wadah. Fasa mobil (pelarut) dapat saja beragam. Air, etanol, asam asetat atau campuran zat-zat ini dapat digunakan.

Kromatografi kertas diterapkan untuk analisis campuran asam amino dengan sukses besar. Karena asam amino memiliki sifat yang sangat mirip, dan asam-asam amino larut dalam air dan tidak mudah menguap (tidak mungkin didistilasi), pemisahan asam amino adalah masalah paling sukar yang dihadapi kimiawan di akhir abad 19 dan awal abad 20. Jadi penemuan kromatografi kertas merupakan berita sangat baik bagi mereka. Kimiawan Inggris Richard Laurence Millington Synge (1914-1994) adalah orang pertama yang menggunakan metoda analisis asam amino dengan kromatografi kertas. Saat campuran asam amino menaiki lembaran kertas secara vertikal karena ada fenomena kapiler, partisi asam amino antara fasa mobil dan fasa diam (air) yang teradsorbsi pada selulosa berlangsung berulang-ulang. Ketiak pelarut mencapai ujung atas kertas proses dihentikan. Setiap asam amino bergerak dari titik awal sepanjang jarak tertentu. Dari nilai R, masing-masing asam amino diidentifikasi. Kromatografi kertas dua-dimensi (2D) menggunakan kertas yang luas bukan lembaran kecil, dan sampelnya diproses secara dua dimensi dengan dua pelarut.

Gambar 12.4 Contoh hasil kromatografi kertas pigmen dari www.indigo.com/ science-supplies/filterpaper. html

c. Kromatografi gas
Campuran gas dapat dipisahkan dengan kromatografi gas. Fasa stationer dapat berupa padatan (kromatografi gas-padat) atau cairan (kromatografi gas-cair). Umumnya, untuk kromatografi gas-padat, sejumlah kecil padatan inert misalnya karbon teraktivasi, alumina teraktivasi, silika gel atau saringan molekular diisikan ke dalam tabung logam gulung yang panjang (2-10 m) dan tipis. Fasa mobil adalah gas semacam hidrogen, nitrogen atau argon dan

disebut gas pembawa. Pemisahan gas bertitik didih rendah seperti oksigen, karbon monoksida dan karbon dioksida dimungkinkan dengan teknik ini. Dalam kasus kromatografi gas-cair, ester seperti ftalil dodesilsulfat yang diadsorbsi di permukaan alumina teraktivasi, silika gel atau penyaring molekular, digunakan sebagai fasa diam dan diisikan ke dalam kolom. Campuran senyawa yang mudah menguap dicampur dengan gas pembawa disuntikkan ke dalam kolom, dan setiap senyawa akan dipartisi antara fasa gas (mobil) dan fasa cair (diam) mengikuti hukum partisi. Senyawa yang kurang larut dalam fasa diam akan keluar lebih dahulu. Metoda ini khususnya sangat baik untuk analisis senyawa organik yang mudah menguap seperti hidrokarbon dan ester. Analisis minyak mentah dan minyak atsiri dalam buah telah dengan sukses dilakukan dengan teknik ini. Efisiensi pemisahan ditentukan dengan besarnya interaksi antara sampel dan cairannya. Disarankan untuk mencoba fasa cair standar yang diketahui efektif untuk berbagai senyawa. Berdasarkan hasil ini, cairan yang lebih khusus kemudian dapat dipilih. Metoda deteksinya, akan mempengaruhi kesensitifan teknik ini. Metoda yang dipilih akan bergantung apakah tujuannya analisik atau preparatif.

d. HPLC
Akhir-akhir ini, untuk pemurnian (misalnya untuk keperluan sintesis) senyawa organik skala besar, HPLC (high precision liquid chromatography atau high performance liquid chromatography) secara ekstensif digunakan. Bi la zat melarut dengan pelarut yang cocok, zat tersebut dapat dianalisis. Ciri teknik ini adalah penggunaan tekanan tinggi untuk mengirim fasa mobil kedalam kolom. Dengan memberikan tekanan tinggi, laju dan efisiensi pemisahan dapat ditingkatkan dengan besar. Silika gel atau oktadesilsilan yang terikat pada silika gel digunakan sebagai fasa stationer. Fasa stationer cair tidak populer. Kolom yang digunakan untuk HPLC lebih pendek daripada kolom yang digunakan untuk kromatografi gas. Sebagian besar kolom lebih pendek dari 1 m. Kromatografi penukar ion menggunakan bahan penukar ion sebagai fasa diam dan telah berhasil digunakan untuk analisis kation, anion dan ion organik.

Latihan
12.1 Distilasi fraktional Tekanan uap dua cairan A dan B adalah 1,50 x 104 N m-2 dan 3,50 x 104 N m-2 pada 20°C. dengan menganggap campuran A dan B mengikuti hukum Raoult, hitung fraksi mol A bila tekanan uap total adalah 2,90 x 104 N m-2 pada 20°C.

12.1 Jawab Fraksi mol A, nA, dinyatakan dengan. (nA x 1,50 x 104) + (1 ± nA) x 3,50 x 104 = 2,90 x 104 nA = 0,30

PENDAHULUAN

Kromatografi adalah suatu metode untuk pemisahan tertentu. Cara ini telah ditemukan oleh TSWETT pada tahun 1903, ia menggunakannya untuk pemisahan senyawa-senyawa berwarna dan nama kromatografi diambil dari senyawa berwarna tersebut. Sekarang kromatografi tidak hanya untuk pemisahan senyawa berwarna saja tetapi untuk senyawa yang tidak berwarna, termasuk gas. Pada dasarnya semua cara kromatografi menggunakan dua fasa, yaitu fasa tetap (stationary) dan fasa bergerak (mobile). Pemisahan tergantung dari gerakan kedua fasa ini. Jika fasa tetap berupa zat padat dan fasa bergerak berupa zat cair maka cara tersebut dikenal dengan kromatografi serapan (absorption chromatography). Jika fasa tetap berupa zat cair dan fasa bergerak berupa zat cair maka cara tersebut dikenal dengan kromatografi partisi (partition chromatography). Semua pemisahan dengan kromatografi terdistribusi sendiri diantara fasa-fasa bergerak dan dalam perbandingan yang berbeda. Kromatografi ada bermacam-macam yaitu: 1. Kromatografi lapis tipis 2. Kromatografi penukar ion 3. Kromatografi gas padat 4. Kromatografi gas cair 5. Kromatografi kertas 6. Kromatografi kolom Dalam makalah ini kami hanya membicarakan tentang Kromatografi Kertas. Tujuan pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa mampu memahami tentang pengenalan kromatografi kertas, garis besar secara umum dari cara kerja, alat dan teknik kromatografi kertas, serta kertas yang digunakan sebagai media (fasa diam) dari kromatografi kertas.

BAB II ISI II.a. Pengenalan kromatografi kertas

Pada awalnya kromatografi dianggap semata-mata sebagai bentuk partisi cairan±cairan. Serat selulosa yang hidrofilik (suka air) dari kertas tersebut dapat mengikat air, setelah disingkapkan pada udara lembab, kertas saring yang tampak kering itu sebenarnya dapat mengandung air dengan persentase tinggi. Jadi kertas itu sebenarnya dapat mengandung air dengan persentase tinggi dan kertas itu dipandang sebagai analog dengan sebatang kolom.

Kromatografi kertas merupakan salah satu metode untuk identifikasi komponen kimia dari suatu campuran zat dengan bantuan perbedaan sifat fisik masing-masing komponen. Kromatografi digunakan untuk memisahkan campuran dari substansinya menjadi komponen-komponennya. Seluruh bentuk kromatografi bekerja berdasarkan prinsip yang sama. Seluruh bentuk kromatografi memiliki fase diam (berupa padatan atau cairan) dan fase gerak (cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen dari campuran bersama-sama. Komponen-komponen yang berbeda akan bergerak pada laju yang berbeda pula. Dalam kromatografi kertas, fase diam adalah kertas serap. Fase gerak adalah pelarut atau campuran pelarut yang sesuai. Adsorben (penyerap) dalam kromatografi kertas adalah kertas saring yaitu selulosa. Cairan fase bergerak yang biasanya berupa campuran dari pelarut organik dan air, akan mengalir membawa noda cuplikan yang ditotolkan pada kertas dengan kecepatan berbeda. Fase mobile (pelarut) dapat beragam, misal: air, etanol, asam asetat, dll. Kromatografi kertas digunakan baik untuk analisa kualitatif maupun kuantitatif. Senyawa-senyawa yang dipisahkan kebanyakan bersifat sangat polar, misalnya: asam-asam amino, gula, atau pigmenpigmen alam. Kromatografi kertas merupakan penemuan yang paling baik bagi kimiawan. Hal ini dikarenakan kromatografi kertas diterapkan untuk analisis campuran asam amino. Bagi kimiawan pemisahan asam-asam amino adalah masalah paling sukar yang dihadapinya, sehingga penemuan kromatografi kertas dianggap berita sangat baik.hal tersebut juga dikarenakan asam amino memiliki sifat yang sangat mirip, asam amino larut dalam air dan tidak mudah menguap. II.b. Garis Besar Secara Umum dari Cara Kerja Larutan cuplikan atau campuran zat yang akan dipisahkan ditotolkan pada kertas saring didaerah yang sudah diberi tanda dimana cuplikan tersebut akan meluas membentuk sebuah noda yang bulat. Setelah menotolkan cuplikan maka tunggu totolan cuplikan tersebut kering. Diameter totolan yang membentuk noda tidak lebih dari 0,4 cm. Hal ini dikarenakan agar noda cuplikan (totolan cuplikan) pada saat dilakukan elusi, setelah pengeringan tidak menyatu antara noda satu dengan noda yang lain, sehingga dapat memisah. Setelah noda (totolan cuplikan) kering masukkan atau gantung kertas dalam bejana tertutup (lemari kromatografi) yang tercelup dalam pelarut atau eluen yang dipilih sebagai fasa bergerak. Jangan sampai noda tercelup dalam eluen (pelarut) karena dapat mengakibatkan senyawa yang dipisahkan akan terlarut dari kertas. Pelarut bergerak melalui serat-serat dari kertas oleh gaya kapiler dan menggerakkan komponen (pita

kromatogram) dalam laju yang berbeda. Bila permukaan pelarut telah bergerak dengan cukup jauh dan dengan waktu yang ditentukan, maka kertas diambil dari bejana dan batas permukaan pelarut diberi tanda lalu kertas dikeringkan (pengeringan bisa dilakukan dengan hairdryer). Jika senyawasenyawa berwarna maka akan terbentuk dan terlihat noda-noda yang terpisah. Bila senyawa tak berwarna maka harus dideteksi dengan cara fisika dan kimia. Cara yang biasa digunakan adalah dengan suatu pereaksi yang memberikan sebuah warna dari senyawa-senyawa tersebut. Untuk mendeteksi bisa juga dengan sinar ultra ungu atau teknik radio kimia. Bila akan melakukan pemisahan dengan cara kromatografi kertas maka hal-hal yang harus diperhatikan adalah: 1) Metoda (penaikkan, penurunan, atau mendatar) 2) Macam dari kertas 3) Pemilihan dan pembuatan pelarut (fasa bergerak) 4) Kesetimbangan dalam bejana yang dipilih 5) Pembuatan cuplikan 6) Waktu pengembangan 7) Metode deteksi dan identifikasi II.c. Alat dan Teknik 1. Alat Alat yang pokok adalah bejana yang terbuat dari gelas, platina atau logam tahan karat yang diatasnya ditutup agar mencegah penguapan dari pelarut (jika pelarut menguap maka tidak bisa dijadikan fase gerak karena syaratnya pelarut/eluen harus jenuh). Alat yang lain kertas saring, dan penutup bejana. Untuk menyangga agar kertas tidak lepas bisa ditali pada penutup bejana. 2. Teknik Kertas dipotong memanjang sesuai ukuran bejana yang akan digunakan. Kertas yang dipakai adalah kertas Whatmann yang secara komersial tersedia dalam berbagai macam ukuran dan lembaran. Biasanya dipakai kertas Whatmann no. 1 dengan kecepatan sedang. Sejumlah cuplikan ditotolkan menggunakan mikropipet pada jarak beberapa cm dari salah satu ujung kertas yang sudah diberi garis horisontal dengan pensil. Spot atau noda yang terbentuk dikeringkan, lalu kertas dimasukkan dalam bejana tertutup yang sudah dijenuhkan dengan pelarut yang sesuai untuk dikembangkan. Terdapat tiga metode pengembangan pada kromatografi kertas, yaitu:
y

Metode penaikkan (ascending)

Prinsipnya: Kertas digantung sedemikian rupa sehingga bagian bawah kertas tercelup pada pelarut yang terletak di dasar bejana. Noda harus diusahakan tidak sampai tercelup karena dapat larut

dalam pelarut. Pelarut akan naik melalui serat-serat kertas oleh gaya kapiler yang menggerakkan komponen dengan jarak yang berbeda-beda.
y

Metode penurunan (descending)

Prinsipnya: Kertas digantung dalam bejana dimana aliran mulai bergerak, dicelupkan dalam palung kaca yang berisi pelarut. Pelarut bergerak turun membawa komponen melalui gaya kapiler dan gaya gravitasi.
y

Metode mendatar (radial)

Kertas dibentuk bulat yang tengahnya diberi sumbu dari benang atau gulungan kertas. Noda ditempatkan pada pusat kertas kemudian pelarut akan naik melalui sumbu sehingga membasahi kertas untuk kemudian mengembang melingkar membawa komponen yang dipisahkan. Bila permukaan pelarut telah mengembang atau bergerak pada batas tertentu, maka kertas dikeluarkan dari bejana dan batas permukaan pelarut diberi tanda lalu kertas dikeringkan. Jika senyawa yang dipisahkan berwarna maka akan nampak sebagai noda-noda yang terpisah. Tetapi jika komponen zat tidak berwarna (umumnya senyawa organik), maka dapat dideteksi dengan cara fisika atau kimia. Pada cara fisika noda komponen disinari lampu ultraviolet dengan panjang gelombang 254-370 nm yang akan memberikan fluorescensi. Secara kimia noda disemprot dengan pereaksi tertentu, sehingga memberikan warna spesifik. Biasanya untuk mendeteksi asam-asam amino digunakan pereaksi ninhidrin 0,1 % dalam butanol. Warna akan nampak merah-ungu sekitar 4 menit setelah dipanaskan 100oC. Setelah letak noda komponen diketahui dan diberi tanda batas harga Rf dapat diketahui. Contoh: Apabila kita mempunyai tiga pena biru dan akan mencari tahu dari tiga pena itu, yang mana yang digunakan untuk menulis sebuah pesan. Sampel dari masing-masing tinta ditotolkan pada garis dasar pensil pada selembar kromatografi kertas. Beberapa pewarna larut dalam jumlah yang minimum dalam pelarut yang sesuai, dan itu juga di totolkan pada garis yang sama. Kertas digantungkan pada wadah yang berisi campuran pelarut yang sesuai didalamnya. Perlu diperhatikan bahwa batas pelarut berada dibawah garis pada bercak diatasnya. Alasan untuk menutup wadah adalah untuk meyakinkan bahwa astmosfer dalam gelas kimia terjenuhkan dengan uap pelarut. Karena pelarut bergerak lambat pada kertas, komponen-komponen yang berbeda dari campuran tinta akan bergerak pada laju yang berbeda dan campuran dipisahkan berdasarkan pada perbedaan bercak warna. Contoh: Kromatogram yang dihasilkan dari campuran asam amino.

Campuran asam amino akan memisahkan asam amino tertentu yang terdapat dalam campuran. Setetes larutan campuran ditempatkan pada garis dasar kertas, dan dengan cara yang sama ditempatkan asam amino yang telah diketahui ditotolkan disampingnya. Kertas lalu ditempatkan dalam pelarut yang sesuai dan dibiarkan seperti sebelumnya. Posisi pelarut depan ditandai dengan pensil dan kromatogram dikeringkan dan disemprotkan dengan larutan ninhidrin. Ninhidrin bereaksi dengan asam amino menghasilkan senyawa berwarna, utamanya coklat atau ungu. Penyemprotan ninhidrin tujuannya adlah agar bercak noda terlihat dan terbentuk warna sehingga dapat mengetahui keberadaan asam amino. ** Kromatografi kertas dua arah** Kromatografi kertas dua arah dapat digunakan untuk pemisahan substansi atau campuran yang mempunyai nilai Rf yang serupa. Posisi pelarut ditandai dengan pensil sebelum kertas tersebut kering. Posisi ini ditandai dengan SF1, SF1 adalah untuk pelarut pertama. Pada gambar diatas dapat kita lihat bercak atau noda pusat besar dalam kromatogram berwarna sebagian biru dan sebagian lagi hijau. Dua pewarna dalam campuran atau bercak noda tersebut mempunyai nilai Rf yang hampir sama. Tunggu kertas diatas hingga kering seluruhnya untuk perlakuan yang kedua, yang pasti dengan pelarut yang berbeda. Setelah kertas kering lalu kertas tersebut diputar 900, lalu lakukan pemisahan kembali dengan pelarut berbeda. II.d. Kertas Kertas dibuat dari serat selulosa. Selulosa merupakan polimer dari gula sederhana, yaitu glukosa. Susunan serat kertas membentuk medium berpori yang bertindak sebagai tempat untuk mengalirkannya fase bergerak.

Berbagai macam kertas yang tersedia adalah Whatman 1, 2, 31 dan 3 MM Kertas yang lain adalah: a. Kertas asam asetil: dapat digunakan untuk zat-zat hidrofobik b. Kertas silikon c. Kertas penukar ion d. Kertas selulosa murni e. Kertas selulosa yang dimodifikasi f. Kertas serat kaca: untuk reagen yang korosif Untuk memilih kertas, yang menjadi pertimbangan adalah:

1. Tingkat dan kesempurnaan pemisahan
2. Difusivitas pembentukan spot 3. Pembentukan komet

4. Laju pergerakan pelarut Kertas yang akan digunakan harus disimpan dalam ruang tertutup atau di tempat yang kering, jauh dari sumber uap terutama yang mempunyai afinitas (kekuatan) tinggi terhadap selulosa. Dalam kromatografi kertas menggunakan kertas saring Whatmann No.1 sampai sekarang masih dipakai. Kertas dalam pemisahan mempunyai pengaruh pada kecepatan aliran pelarut. Kecepatan aliran naik dengan penurunan kekentalan dari pelarut, tetapi aliran pelarut pada suhu tertentu, ditentukan oleh kerapatan dan tebal dari kertas. Penurunan kerapatan atau kenaikan tebal memberikan kecepatan aliran yang lebih tinggi. Kertas Whatmann No.4 mempunyai karakteristik yang mirip seperti No.1, tetapi kira-kira memberikan efek dua kali lebih cepat. Kertas-kertas yang lebih tebal (Whatmann No.3 atau 3 MM) biasanya digunakan untuk pemisahan pada jumlah yang lebih besar, karena kertas tersebut dapat menampung lebih banyak cuplikan tanpa menaikkan area dari noda mula-mula.

BAB III KESIMPULAN Kromatografi kertas adalah salah satu metode untuk identifikasi komponen kimia dari suatu campuran zat. Kromatografi kertas digunakan untuk memisahkan campuran dari substansinya (campuran zat) menjadi komponen-komponennya (pita-pita kromatogram). Fasa diam dari kromatografi kertas adalah kertas serap dan fasa gerak adalah pelarut (campuran pelarut yang sesuai). Secara umum cara kerja kromatografi kertas yaitu: kertas dimasukkan dalam bejana tertutup untuk dijenuhkan dengan uap pelarut (eluen) dalam waktu yang ditentukan dan dilakukan elusi. Lalu kertas diambil dan dikeringkan untuk mengetahui bercak noda yang terbentuk. Bila senyawa yang diidentifikasi berwarna maka setelah dikeringkan bercak noda yang terpisah akan tampak, tetapi jika senyawa yang diidentifikasi tidak berwarna maka setelah dikeringkan tidak tampak bercak noda, untuk mengetahui bercak noda tersebut harus direaksikan dengan pelarut tertentu. Alat yang digunakan dalam kromatografi kertas ini adalah bejana yang terbuat dari gelas, platina/logam tahan karat yang di atasnya ditutup. Teknik kromatografi kertas ada tiga yaitu: metode penurunan, penaikkan dan mendatar. Kromatografi kertas menggunakan kertas Whatmann No. 1, 2, 31 dan 3 MM. Kertas yang lain biasa digunakan adalah kertas asam asetil, kertas kieselguhr, kertas silicon, kertas penukar ion dan kertas selulosa murni. Kertas dalam pemisahan mempunyai pengaruh pada kecepatan aliran pelarut.

http://ml.scribd.com/doc/38269363/Kromatografi-kertas.



Minggu, 14 Oktober 2012


KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS


Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponen-komponennya. Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda. Kita akan membahasnya lebih lanjut.

Pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis tipis silika atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras.

Jel silika (atau alumina) merupakan fase diam. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang mana dapat berpendarflour dalam sinar ultra violet, alasannya akan dibahas selanjutnya. Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai.

Kromatogram


Sebuah garis menggunakan pinsil digambar dekat bagian bawah lempengan dan setetes pelarut dari campuran pewarna ditempatkan pada garis itu. Diberikan penandaan pada garis di lempengan untuk menunjukkan posisi awal dari tetesan. Jika ini dilakukan menggunakan tinta, pewarna dari tinta akan bergerak selayaknya kromatogram dibentuk.

Ketika bercak dari campuran itu mengering, lempengan ditempatkan dalam sebuah gelas kimia bertutup berisi pelarut dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Perlu diperhatikan bahwa batas pelarut berada di bawah garis dimana posisi bercak berada.

Alasan untuk menutup gelas kimia adalah untuk meyakinkan bawah kondisi dalam gelas kimia terjenuhkan oleh uap dari pelarut. Untuk mendapatkan kondisi ini, dalam gelas kimia biasanya ditempatkan beberapa kertas saring yang terbasahi oleh pelarut. Kondisi jenuh dalam gelas kimia dengan uap mencegah penguapan pelarut.

Karena pelarut bergerak lambat pada lempengan, komponen-komponen yang berbeda dari campuran pewarna akan bergerak pada kecepatan yang berbeda dan akan tampak sebagai perbedaan bercak warna.

Gambar menunjukkan lempengan setalah pelarut bergerak setengah dari lempengan.

Pelarut dapat mencapai sampai pada bagian atas dari lempengan. Ini akan memberikan pemisahan maksimal dari komponen-komponen yang berwarna untuk kombinasi tertentu dari pelarut dan fase diam.

Perhitungan nilai Rf

Jika anda ingin mengetahui bagaimana jumlah perbedaan warna yang telah terbentuk dari campuran, anda dapat berhenti pada bahasan sebelumnya. Namun, sering kali pengukuran diperoleh dari lempengan untuk memudahkan identifikasi senyawa-senyawa yang muncul. Pengukuran ini berdasarkan pada jarak yang ditempuh oleh pelarut dan jarak yang tempuh oleh bercak warna masing-masing.

Ketika pelarut mendekati bagian atas lempengan, lempengan dipindahkan dari gelas kimia dan posisi pelarut ditandai dengan sebuah garis, sebelum mengalami proses penguapan.

Pengukuran berlangsung sebagai berikut:

Nilai Rf untuk setiap warna dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Rf=jarak yang ditempuh oleh komponen
jarak yang ditempuh oleh pelarut

Sebagai contoh, jika komponen berwarna merah bergerak dari 1.7 cm dari garis awal, sementara pelarut berjarak 5.0 cm, sehingga nilai Rf untuk komponen berwarna merah menjadi:

Jika anda dapat mengulang percobaan ini pada kondisi yang tepat sama, nilai Rf yang akan diperoleh untuk setiap warna akan selalu sama. Sebagai contoh, nilai Rf untuk warna merah selalu adalah 0.34. Namun, jika terdapat perubahan (suhu, komposisi pelarut dan sebagainya), nilai tersebut akan berubah. Anda harus tetap mengingat teknik ini jika anda ingin mengidentifikasi pewarna yang tertentu. Mari kita lihat bagaimana menggunakan kromatografi lapis tipis untuk menganalisis pada bagian selanjutnya.
Bagaimana halnya jika substansi yang ingin anda analisis tidak berwarna?

Ada dua cara untuk menyelesaikan analisis sampel yang tidak berwarna.

Menggunakan pendarflour

Mungkin anda masih ingat apa yang telah saya sebutkan bahwa fase diam pada sebuah lempengan lapis tipis seringkali memiliki substansi yang ditambahkan kedalamnya, supaya menghasilkan pendaran flour ketika diberikan sinar ultraviolet (UV). Itu berarti jika anda menyinarkannya dengan sinar UV, akan berpendar.

Pendaran ini ditutupi pada posisi dimana bercak pada kromatogram berada, meskipun bercak-bercak itu tidak tampak berwarna jika dilihat dengan mata. Itu berarti bahwa jika anda menyinarkan sinar UV pada lempengan, akan timbul pendaran dari posisi yang berbeda dengan posisi bercak-bercak. Bercak tampak sebagai bidang kecil yang gelap.

Sementara UV tetap disinarkan pada lempengan, anda harus menandai posisi-posisi dari bercak-bercak dengan menggunakan pinsil dan melingkari daerah bercak-bercak itu. Seketika anda mematikan sinar UV, bercak-bercak tersebut tidak tampak kembali.

Penunjukkan bercak secara kimia

Dalam beberapa kasus, dimungkinkan untuk membuat bercak-bercak menjadi tampak dengan jalan mereaksikannya dengan zat kimia sehingga menghasilkan produk yang berwarna. Sebuah contoh yang baik adalah kromatogram yang dihasilkan dari campuran asam amino.

Kromatogram dapat dikeringkan dan disemprotkan dengan larutan ninhidrin. Ninhidrin bereaksi dengan asam amino menghasilkan senyawa-senyawa berwarna, umumnya coklat atau ungu.

Dalam metode lain, kromatogram dikeringkan kembali dan kemudian ditempatkan pada wadah bertutup (seperti gelas kimia dengan tutupan gelas arloji) bersama dengan kristal iodium.

Uap iodium dalam wadah dapat berekasi dengan bercak pada kromatogram, atau dapat dilekatkan lebih dekat pada bercak daripada lempengan. Substansi yang dianalisis tampak sebagai bercak-bercak kecoklatan.
Dalam metode lain, kromatogram dikeringkan kembali dan kemudian ditempatkan pada wadah bertutup (seperti gelas kimia dengan tutupan gelas arloji) bersama dengan kristal iodium.

Uap iodium dalam wadah dapat berekasi dengan bercak pada kromatogram, atau dapat dilekatkan lebih dekat pada bercak daripada lempengan. Substansi yang dianalisis tampak sebagai bercak-bercak kecoklatan.

Penggunaan kromatografi lapis tipis untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa

Anggaplah anda mempunyai campuran asam amino dan ingin menemukan asam amino-asam amino tertentu yang terkandung didalam campuran tersebut. Untuk sederhananya, mari kira berasumsi bahwa anda mengetahui bahwa campuran hanya mungkin mengandung lima asam amino.

Setetes campuran ditempatkan pada garis dasar lempengan lapis tipis dan bercak-bercak kecil yang serupa dari asam amino yang telah diketahui juga ditempatkan pada disamping tetesan yang akan diidentifikasi. Lempengan lalu ditempatkan pada posisi berdiri dalam pelarut yang sesuai dan dibiarkan seperti sebelumnya. Dalam gambar, campuran adalah M dan asam amino yang telah diketahui ditandai 1-5.

Bagian kiri gambar menunjukkan lempengan setelah pelarut hampir mencapai bagian atas dari lempengan. Bercak-bercak masih belum tampak. Gambar kedua menunjukkan apa yang terjadi setelah lempengan disemprotkan ninhidrin.

Tidak diperlukan menghitung nilai Rf karena anda dengan mudah dapat membandingkan bercak-bercak pada campuran dengan bercak dari asam amino yang telah diketahui melalui posisi dan warnanya.

Dalam contoh ini, campuran mengandung asam amino 1, 4 dan 5.

Bagaimana jika campuran mengandung lebih banyak asam amino daripada asam amino yang digunakan sebagai perbandingan? Ini memungkinkan adanya bercak-bercak dari campuran yang tidak sesuai dengan asam amino yang dijadikan perbandingan itu. Anda sebaiknya mengulangi eksperimen menggunakan asam amino lain sebagai perbandingan.
Bagaimana kromatografi lapis tipis berkerja?

Fase diam-jel silika

Jel silika adalah bentuk dari silikon dioksida (silika). Atom silikon dihubungkan oleh atom oksigen dalam struktur kovalen yang besar. Namun, pada permukaan jel silika, atom silikon berlekatan pada gugus -OH.
Jadi, pada permukaan jel silika terdapat ikatan Si-O-H selain Si-O-Si. Gambar ini menunjukkan bagian kecil dari permukaan silika.

Permukaan jel silika sangat polar dan karenanya gugus -OH dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa-senyawa yang sesuai disekitarnya, sebagaimana halnya gaya van der Waals dan atraksi dipol-dipol..
Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina-aluminium oksida. Atom aluminium pada permukaan juga memiliki gugus -OH. Apa yang kita sebutkan tentang jel silika kemudian digunakan serupa untuk alumina.

Apa yang memisahkan senyawa-senyawa dalam kromatogram?

Ketika pelarut mulai membasahi lempengan, pelarut pertama akan melarutkan senyawa-senyawa dalam bercak yang telah ditempatkan pada garis dasar. Senyawa-senyawa akan cenderung bergerak pada lempengan kromatografi sebagaimana halnya pergerakan pelarut.

Bagaimana cepatnya senyawa-senyawa dibawa bergerak ke atas pada lempengan, tergantung pada:
  • Bagaimana kelarutan senyawa dalam pelarut. Hal ini bergantung pada bagaimana besar atraksi antara molekul-molekul senyawa dengan pelarut.
  • Bagaimana senyawa melekat pada fase diam, misalnya jel silika. Hal ini tergantung pada bagaimana besar atraksi antara senyawa dengan jel silika.
Anggaplah bercak awal mengandung dua senyawa, yang satu dapat membentuk ikatan hidrogen, dan yang lainnya hanya dapat mengambil bagian interaksi van der Waals yang lemah.

Senyawa yang dapat membentuk ikatan hidrogen akan melekat pada jel silika lebih kuat dibanding senyawa lainnya. Kita mengatakan bahwa senyawa ini terjerap lebih kuat dari senyawa yang lainnya. Penjerapan merupakan pembentukan suatu ikatan dari satu substansi pada permukaan.

Penjerapan bersifat tidak permanen, terdapat pergerakan yang tetap dari molekul antara yang terjerap pada permukaan jel silika dan yang kembali pada larutan dalam pelarut.

Dengan jelas senyawa hanya dapat bergerak ke atas pada lempengan selama waktu terlarut dalam pelarut. Ketika senyawa dijerap pada jel silika-untuk sementara waktu proses penjerapan berhenti-dimana pelarut bergerak tanpa senyawa. Itu berarti bahwa semakin kuat senyawa dijerap, semakin kurang jarak yang ditempuh ke atas lempengan.

Dalam contoh yang sudah kita bahas, senyawa yang dapat membentuk ikatan hidrogen akan menjerap lebih kuat daripada yang tergantung hanya pada interaksi van der Waals, dan karenanya bergerak lebih jauh pada lempengan.

Bagaimana jika komponen-komponen dalam campuran dapat membentuk ikatan-ikatan hidrogen?

Terdapat perbedaan bahwa ikatan hidrogen pada tingkatan yang sama dan dapat larut dalam pelarut pada tingkatan yang sama pula. Ini tidak hanya merupakan atraksi antara senyawa dengan jel silika. Atraksi antara senyawa dan pelarut juga merupakan hal yang penting-hal ini akan mempengaruhi bagaimana mudahnya senyawa ditarik pada larutan keluar dari permukaan silika.



Sabtu, 29 September 2012


PROTEIN
Protein merupakan suatu zat makanan yang amat penting bagi tubuh., karena zat ini di samping berfungsi sebagai bahan baker dalam tubuh juga berfungsi sebagai zat pembangun dan pengatur. Protein adalah sumber asam-asam amino yang mengandung unsure-unsur C,H,O dan N yang tidak di miliki oelh lemak dan karbohidrat. Molekul protein mengandung pula fosfor, belerang, dan ada jenis protein yang mengandung unsure logam seperti besi dan tembaga.
Sebagai zat pembangun protein merupakan bahan pembentuk jaringan-jaringan baru yang selalu terjadi dalam tubuh. Pada masa pertumbuhan proses pembentukan jaringan terjadi secara besar-besaran, pada masa kehamilan droteinlah yang membenuk jaringan janin dan pertumbuhan embrio. Protein juga mengganti jaringan tubuh yang rusak dan yang di rombak. Fungsi utama protein bagi tubuh ialah untuk membentuk jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang telah ada.
Protein dapat juga di gunakan untuk bahan baker apabila keperluan energi tunbuh tidak terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak. Protein ikut pula mengatur berbagai proses tubuh baik langsung maupun tidak langsung dengan membentuk zat-zat pengatur proses dalam tubuh. Protein mengatur keseimbangan cairan dalam jaringan dan pembuluh darah, yaitu dengan menimbulkan tekanan osmotic koloid yang dapat menarik cairan dari jaringan ke dalam pembuluh darah. Sifat atmosfer protein yang yapat bereaksi dengan asam dan basa, dapat mengatur keseimbangan asam-basa dalam tubuh. Protein dalam tubuh manusia, terutama dalam sel jaringan, bertindak sebagai bahan membrane sel, dapat membentuk jaringan pengikat misalnya kolagen dan elastin, serta membentuk protwin yang inert seperti rambut dan kuku. Di samping itu protein yang bekerja sebagai enzim, bertindak sebagai plasma (albumin), membentuk antibody, membentuk komplek dengan molekul lain, serta dapat bertindak sebagai bagian sel yang bergerak. Kekurangan protein dalam waktu lama dapat menggaggu berbagai proses dalam tubuh dan menurunnkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.
Siklus protein --> Di dalam tubuh manusia terjadi suatu siklus protein, artinya protein di pecah menjadi komponen-komponen yang ebih kecil yaitu adam amino dan atau peptide. Terjadi juga suatu sintesis protein baru untuk mengganti yang lama. Praktis tidak ada sebuah molekul protein pun yang di sintesis untuk di pakai seumur hidup. Semuanya akan di pecah dan di ganti dengan yang baru dengan laju yang berbeda tergantung jenis dan keperluanya dalam tubuh. Waktu yang di perlukan untuk mengganti separuh dari sejumlah kelompok protein tertentu dengan protein baru di sebut half life protein.
Asam amino --> Bila suatu protein di hidrolisis dengan asam, alkali, atau enzim, akan di hasilkan campuran asam-asam amino. Sebuah asam amino terdiri dari sebuah gugus amino, sebuah gugus karboksil, sebuah atom hydrogen, dan gugus R yang terikat pada sebuah atom C yang di kenal sebagai karbon a, serta gugus R merupakan rantai cabang. Semua asam amino berkonfigurasi a dan mempunyai konfigurasi L kecuali glisin yang tidak memupunyai atom C asimetrik. Hanya asam amino L yang merupakan komponen protein. Karena itu penulisan isomer optic jarang dilakukan, dan bila tidak ada tanda apa-apa, maka yang di maksud adalah asam amino L.
Pemurnian protein --> Pemurnian protein merupakan tahap yang harus di lakukan untuk mempelajari sifat dan fugsi protein. Sejumlah besar protein lebih dari seribu, telah berhasil di isolasi dalam bentuk yang murni.
Kini protein yang dapat dipisahkan dari molekul-molekul kecil dengan cara dialysis melalui selaput semi permeable. Molekul-molekul dengan BM lebih besar dari 15.000 tertahan dalam kantung dialysis, sedang molekul-molekul dengan ukuran lebih kecil dan juga ion-ion akan melewati pori-pori selaput semi permeable tersebut keluar dari kantung dialysis.
Peneraan jumlah protein total --> Peneraan dalam baha makanan umumnya dilakukan beradasrkan peranan empiris, yaitu melalui penentuan kandungan N yang ada dalam bahan. Penentuqan dengan cara langsung atau absolute misalnya dengan pemiashan, pemurnian atau penimbangan protein akan memberikan hasil yang lebih tepat tetapi juga sangat sukar, membutuhkan waktu lama, ketrampilan tinggi dan mahal. Hanya untuk keperluan tertentu, terutama untuk penelitian yang lebih mendasar (nialai gizi protein tertentu, susunan asam amino, aktivitas ensimatis dan lain-lain) maka cara absolute ini perlu di tempuh. Peenraan jumlah protein secara empiris yang umum di lakukan adalah dengan menentukan jumlah N yang di kandung oleh suatu bahan. Cara penentuan ini di kembangkan oleh kjeldahl seorazng ahli ilmu kimia pada tahun 1883. dalam penentuan protein seharusnya hanya nitrogen yang berasal dari protein saja yang di tentukan. Akan tetapi secara teknis hal ini sulit sekali di lakukan dan mengingat jumlah kandungan senyawa lain selain protein dalam bahan biasanya sangat sedikit, maka penentuan jumlah N total ini tetap di lakukan untuk mewakili jumlah protein yang ada. Kadar protein yang di tentukan berdasarkan cara kjeldahl ini dengan demikian serig di sebut kadar protein kasar.
Penentuan protein berdasarkan jumlah N menunjukan protein kasar karenqa selain protein juga terikut senyawa N bukan protein misalnya urea, asam nukleat, ammonia, nitrat,nitrit dan lain-lain. Penentuan cara ini yang paling terkenal adalah cara kjeldahl yang dalam perkembanganya terjadi berbagai modifikasi misalnya oleh gunning dan sebagainya. Analisa protein cara kjeldahl pada dasarnya dapat di bagi menjadi tiga tahapan yaitu destruksi, proses destilasi, dan proses titrasi.
Tahap destruksi. --> Pada tahapan ini sample di panaskan dalam asam sulfat pekat sehinggaterjadi destruksi menjadi unsure-unsurnya. Elemen karbon, hidrogen teroksida menjadi CO, dan CO2 dan H2O. sedangkan nitrogenya akan berubah menjadi (NH4)SO4. asam sulfat yang di pergunakan untuk destruksi di perhitugkan adanya bahan protein, lemak dan karbohidrat. Untuk emndestruksi 1 gr protein di perlukan 9 gr asam sulfat, untuk 1 gr lemak di perlukan 17,8 gr, sedangkan unutk 1 gr karbohidrat perlu asam sulfat yang paling banyk dan memerlukan waktu destruksi cukup lama, maka sebaiknya lemak di hilangkan lebih dahulu sebelum destruksi di lakukan. Asam sulfat yang di gunakan minimum 10 ml (18,4 gr).
Untuk mempercepat proses destruksi sering di tambahkan katalisator berupa campuran Na2SO4 atau CuSO4 dan HgO (20:1). Setiap 1 gr K2SO4 dapat menaikan titik didih 3 oC. suhu destruksi berkisar antara 370-410 oC.

Selama destruksi akan terejadi reaksi sebagai berikut :
HgO + H2SO4 --> HgSO4 + H2O
2HgSO4 --> Hg2SO4 + SO2 + 2On
Hg2SO4 + 2Hg2SO4 --> 2Hg2SO4 + 2H2SO4 +SO2
(CHON) + On + H2SO4 --> CO2 + H2O + (NH4)2SO4

proses destruksi sudah selesai apabila larutan menjnadi jernih atau menjadi tidak berwarna. Agar supaya analisa lebih tepat maka pada tahap destruksi ini dilakukan pula perlakuan blanko yaitu untuk koreksi adanya senyawa N yang berasal dari reagensia yang di gunakan.
Tahap destilas --> Pada tahapdestilasi ammonium sulfat di pecah menjadi ammonia (NH3)dengan penambahan NOH sampai alkalis dan di panaskan. Agar supaya selama destilasi tidak terjadi superheating ataupun pemercikan cairan maka dapat di tambahkan logam zink (Zn) ammonia yang di bebaskan selanjutnya akan di tangkap oleh larutan asam standar yang dapat di pakai adalah asam klorida atau asam borat 4%. Untuk mengetahiu bahwa asam dalam keadaan berlebihan maka di beri indicator misalnya BCG +MR /PP. destilasi di akhiri bila sudah semua ammonia terdestilasi sempurna dengan di tandai destilat tidak bereaksi basis.
Tahap titrasi --> Apabila penampng destilasi di gunakan asam klorida maka sisa asam klorida yang tidak bereaksi dengan ammonia dititrasi dengan NaOH standar 0,01 N. akhir titrasi ditandai dengan tepat perubahan warna larutan menjadi merah muda dan tidak hilang selama 30 detik dan bila menggunakan indicator PP. selisish jumlah titrasi blanko dan sample merupakan jumlah ekivalen nitrogen.Apabila penampung destilasi di gunakan asam borat maka banyaknya asam borat yang bereaksi dengan ammonia dapat di ketahui dengan titrasi menggunakan asam klorida 0,1 N dengan indicator (BCG + MR).

METODOLOGI
1. Alat dan Bahan untuk analisa kadar protein
Alat :
- labu kjeldhal
- kertas saring
- neraca analitik (neraca Ohaus)
- Erlemeyer 100 ml
- Labu ukur 100 ml
- Digestor
- Unit destilasi
- Blender
- Neraca analitik (neraca Ohaus)

Bahan :
- Tepung dedak 0,5028. g
- Selen 2.g
- Asam sulfat (H2SO4) 25 ml
- Aquades
- Phenopthalin (PP) 3-4 tetes
- Asam borat (H3BO4) 10 ml
- NaOH 7,5 ml
- HCl

2. langkah kerja untuk analisa kadar protein (Mthode kjeldhal)
- Timbang kertas saring, masukkan contoh bahan makanan (tepung dedak) ke kertas saring dan timbang sebanyak 0,5028 g dan selen sebanyak 2 g (sebagai katalis), bungkus menggunakan kertas saring dan masukkan ke tabung kjeldhal.
- Tambahkan Asam Sulfat (H2SO4) sebanyak 25 ml
- Destruksi dengan menggunakan Degestor sampai terbentuk larutan jernih kehijauan.
- Dinginkan ± 2-3 jam
- Masukkan ke labu ukur 100 ml
- Tambahkan aquades
- Dinginkan lagi
- Dikocok sampai larutanya homogen
- Di pipet 5 ml larutan dan masukkan ke labu kjeldhal yang kering dan bersih.
- Tambahkan larutan pp (phenopthalin) sebanyak 2-4 tetes.
- Destilasi dengan menggunakan asam borat (H3BO4) dengan menggunakan pipet 10 ml, masukkan kedalam erlemeyer.
- Larutan sample di tambahkan NaOH 7,5 ml, kemudian didestilasi
- Setelah destilasi dititrasi dengan HCl 0,01 akan terbentuk warna jernih hijau kebiru-biruan.
- Hitung kadar proteinya dengan cara menghitung dulu % N nya dan kalikan dengan factor konfersi 6,38 untuk % proteinya.


PEMBAHASAN
Berdasartkan hasil pegamatan di peroleh hasil yang berbeda dengan metode yang sama tetapi menggunakan bahan sample yang berbeda. Tahap tahap untuk melakukan proses penentuan protein total yang pertama yaitu tahap destruksi dan di lanjutkan dengan tahap destilasi yang kemmudian di lakukan tahap titrasi.
Yang pertama yaitu tahap destruksi. Sebelum tahap destruksi dilakukan yang pertama yaitu di lakukan penimbangan dan kemudian sample di tambahkan kurang lebih 2 gram larutan selen. Larutan selen di sini berfungsi sebagai ktalisator aitu untuk mempercepat proses destruksi
Dalam tahap penambahan selen ini harus benar-benar di perhatikan dengan baik. Hal ini di sebabkan karena jika selen yang di tambahkan terlalu banyak akan menyebabkan hilangnya nitrogen yang berada pada sampe tersebut sehingga nantinya pada saat penentuan akhir tidak akan teliti atau tidak yang sebenarnya ada pada sample tersebut. Tetapi selain itu juga selen tidak boleh terlalu sedikit, hal ini karena selen yang terlalu sedikit akan menyebabkan lambatnya proses destruksi yag akan berlangsung selain itu juga selen dapat berfungsi sebagai atau dapat mempercepat panas pada tahap destruksi.
Berdasarkan perhitungan maka kadar nitrogen akan berpengaruh terhadap jumlah kadar protein karena untuk penentuan protein secara tidak langsung atau dengan cara penentuan empiris melalui pentuan kandungan nitrogen pada bahan yang kan di uji. Maka semakin besar kadarnitrogennya maka akan semakin besar kadar proteinnya
Untuk sample pada saat parktikum yang di gunakan yaitu pakan ternak dengan produksi yang berbeda-beda dan setelah di lakukan uji coba penentuan protein terny ata hasil yang di peroleh berbeda-beda.
Semakin tinggi kadar protein pada pakan ternak tersebut maka kualitas pakan ternak tersebut akan semakin bagus nilai gizinya pada ternak tersebut. Dan berdasarkan hasli uji maka di peroleh kadar protein yang tertinggi yaitu pakan ternak yang bermerek MBN karena merek MBN ini di peroleh kadar nitrogen yang tinggi sehingga kadar proteinnyq pun akan semakin tinggi pula.
Sebelum melakukan penentuan kadar protein maka yang pertama yaitu melakukan standarisasi pada larutan HCL dan NaOH dengan menggunakan asam oksalat. Standarisasi ini bertujuan untuk mengetahui dan menentukan nomalitas larutan tersebut karena akan mempengaruhi hasilakhir penentuan total protein.

a. tahap destruksi
Pada tahap destruksi ini saple di pecah sehingga pada tahap yang berikutnya kan di peroleh hanya kadar proteinya saja yang dapat di hitung. dalam hal ini terjadi pemecahan molekul-molkul oleh larutan H2SO4 pekat dan sebagai katalisator yang di tambahkan larutan selen pada sample. Nitrogen yang ada pada sample tersebut akan di ubah menjadi garam-garam ammonium pada proses destruksi oleh asam sulfat.

b. tahap destilasai
pada tahap destilasi ini dilakukan penambahan larutan NaOH dan pemanasan. Dengan adanya penambahan tersebut maka akan membebaskan suatu gas yaitu gas ammonia yang bersifat basa dan pada tahap ini gas terseut tidak boleh keluar dari larutan nitrogen tersebut karena gas tersebut akan menjadikan tanda bahwa destilasi akan selesai jika dikakukan dengan menggunakan kertas lakmus tersebut yaitu tidak berubah warna yaitu jika kertas lakmus pada awalnya merah maka tidak akan beubah menjadi warna lain selain merah.
Adapun reaksi dari pada prodes destilasi iini yaitu
NH4+ + OH -> H2O + NH3 atau
(NH4)2SO4 + 2NaOH --> 2NH3 + Na2SO4 N+ 2H2O
proses iini akan membebaskan NH3 sehingga akan tertampung dalam H3BO3 dan yang selanjutnya akan di lakukan pada proses titrasi;.

c. tahap titrasi.
Titrasi ini di maksudkan untuk menentukan seberapa banyak volume HCL yang di perukan yaitu untuk merubah warna larutan yang tadinya berwarna hijau berubah menjadi warna merah. Dalam hal ini untuk mempercepat terjadinya perubahan warna merah maka dapat di gunakan indikor. Dalam hal ini indicator yang di gunakan yaitu bromkresol dan metil merah
Pada tahap titrasi ini harus di perhatikan betul-betul karena jika HCL yang di dgunakan untuk titrasi terlalu banyakj maka akan mempengaruhi perhitungan total proptein sehingga kadar protein tidak akan benar atau akan semakin banyak karena terjadi salah perhitungan pada saat titrasi.

Titik kritis yang terjadi pada saat uji total protein yaitu
1. pada saat tahap destilasi yaitu apabila gas ammonia tidak tercelup kelarutan protein akan menyebabkan tidak bereaksiya gas ammonia tersebut yang bersifat basa.
2. pada saat penambahan selen di harapkan tidak boleh terlalu banyak karena akan mempengaruhi hasil akhir yang di peroleh yaitu jika terlalu banyak selen yang di tambahkan maka nitrogen yang berada pada sample akan hilang.
3. pada tahap titrasi yaitu tidak boleh berlebihan karena akan menyebabkan terjadinya kesalahan dalam proses perhitungan.

KESIMPULAN
- Dalam tahap penambahan selen ini harus benar-benar di perhatikan dengan baik. Hal ini di sebabkan karena jika selen yang di tambahkan terlalu banyak akan menyebabkan hilangnya nitrogen yang berada pada sampe
- pada tahap destilasi ini dilakukan penambahan larutan NaOH dan pemanasan. Dengan adanya penambahan tersebut maka akan membebaskan suatu gas yaitu gas ammonia yang bersifat basa
- Dalam tahap penambahan selen ini harus benar-benar di perhatikan dengan baik. Hal ini di sebabkan karena jika selen yang di tambahkan terlalu banyak akan menyebabkan hilangnya nitrogen yang berada pada sampe tersebut sehingga nantinya pada saat penentuan akhir tidak akan teliti atau tidak yang sebenarnya
- Pada tahap titrasi ini harus di perhatikan betul-betul karena jika HCL yang di dgunakan untuk titrasi terlalu banyakj maka akan mempengaruhi perhitungan total proptein sehingga kadar protein tidak akan benar atau akan semakin banyak karena terjadi salah perhitungan pada saat titrasi.
- berdasarkan hasli uji maka di peroleh kadar protein yang tertinggi yaitu pakan ternak yang bermerek MBN karena merek MBN ini di peroleh kadar nitrogen yang tinggi sehingga kadar proteinnyq pun akan semakin tinggi pula.

Sumber :